Hi, selamat malam.
Insekuritas itu rasa paling busuk dalam hati dan pikiran, asli deh. Saking busuknya, dia bisa ngebuat kamu ga cuma ragu sama diri sendiri, tapi juga sama orang lain. Rasanya kayak seluruh dunia ngeliat kamu rendah, sampah yang bahkan ga pantas dianggap ada. Hal sekecil apapun bisa jadi sumber rasa ga percaya diri ini, bahkan hal sesepele seperti cara tersenyum. Apakah bagus? Cantik? Apakah orang lain ga ngerasa jijik ngeliatnya? Apakah keliatan terpaksa atau sudah cukup alami?
Busuk deh, beneran.
Lantas bagaimana kalau insekuritas itu terwujud dalam bentuk seseorang? Yang bahkan harus kamu temui setiap hari?
Aku dikelilingi oleh teman-teman yang menurutku sangat baik dan oke. Mereka unik dengan cara mereka sendiri; ada yang baik ga ketulungan, ada yang berjiwa sosial tinggi, ada yang sedikit esentrik, dan ada juga yang sholehah. Lalu aku hadir, sebagai clown of the group, sekaligus sebagai satu-satunya yang memiliki pemikiran menjijikkan ini.
Salahku memang.
Aku melihatnya sebagai perwujudan dari rasa insecure-ku. Awalnya ga separah itu. Kembali ke bagaimana aku melihat dia sebagai seseorang yang sangat sholehah, aku sebagai salah satu lulusan pesantren merasa malu karena dia tampak lebih cocok menyandang gelar "kesayangan Tuhan" dibandingkan denganku. Dia rajin sekali beribadah, mulai dari shalat sunnah, mengaji, dan semacamnya.
Takjub adalah apa yang aku pikirkan pertama kali. Dia itu bagai sebuah reminder positif buatku untuk ikut rajin beribadah, mencari pahala, mengejar ridha-Nya.
Tapi entah kapan rasanya itu semua runtuh. Salahku, mungkin. Ketika aku sadar bahwa cara ibadah kami sedikit berbeda, bahwa aku sedikit salah dalam hal tertentu. Mungkin caraku membaca Qur'an yang jelek? Mungkin caraku ruku' tidak bagus dan punggungku tampak bengkok? Dia mengkoreksiku dengan cara menatapku aneh, serta berkata, "Lho, bukannya emang gitu?".
Kalimatnya simpel. Yang salah adalah aku yang seakan-akan tenggelam dalam palung yang sangat dalam, merasa sesak sampai-sampai dadaku terasa nyeri.
Mulutku rasanya kecut, aku ga tau gimana ekspresi wajahku hari itu. Did I just laught it off like a good clown should do? Aku ga inget. Yang aku tahu adalah aku ga akan pernah beribadah atau melakukan hal religi lagi di depannya. Tidak akan pernah. Selamanya.
Whatever it takes.
Makanya ketika dia tiba-tiba memintaku menggantikan dia jadi imam shalat terawih, aku menolak setengah mati. Aku takut salah. Aku takut bacaanku tidak sempurna karena aku cadel. Aku takut setelah shalat, dia akan mengoreksi cara ibadahku di depan semua orang.
Mungkin mulai dari situ, aku melihat dia sebagai sosok yang superior. Perlahan-lahan, setiap aspek dan perilakunya menjadi insekuritas baru yang aku sendiri ga tau aku bakal punya.
Dia itu pinter, terutama di patofisiologi. Yah, dia jadi asprak praktikum dan kesayangan dosen tentunya bukan tanpa alasan. Harusnya kami bersaing secara sehat, meraih hasil belajar sebaik mungkin. Harusnya aku menjadikan dia motivasi. Terkadang juga kami belajar dan mengerjakan tugas bareng.
Tapi tentunya, with me having this nasty feeling, aku ngerasa dia sering secara implisit menyampaikan kamu kan kuliah juga, masa hal sekecil ini ga tau sih sampe nanya.
It's the worst, I'm telling you.
Karena dia pinter, dia juga deket sama salah satu orang paling pintar di kelasku. Awalnya aku ga mempermasalahkan mereka, sampai suatu hari takdir memintaku satu kelompok bersama mereka. Sebenernya, mereka lucu banget, mirip orang pacaran yang doyan ngejek satu sama lain. Sayangnya adalah mereka terlalu mempercayai satu sama lain, bahkan dalam diskusi kelompok sekali pun.
Lalu aku, si pemeran figuran yang bodoh ini, harus apa?
Aku ga sebodoh itu sih, kayaknya. Aku juga usaha kok buat terlibat dalam diskusi. Really tho, I should've known my place.
Opiniku tidak berbobot.
Suaraku tidak lebih dari sekadar BGM.
Aku hampir nangis on the spot saat itu, hahaha. Konyol banget.
Kedua hal yang kusebutkan di atas terjadi ga sekali dua kali, tapi tiga kali empat sama dengan dua belas alias selalu berulang sampai aku hapal tuntas. Dampaknya adalah aku jadi ga suka setiak gerak-geriknya.
Aku ga suka bagaimana dia selalu bercerita bahwa dia sangat bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik (apakah aku tidak pantas untuk dikelilingi orang yang baik juga?). Aku ga suka bagaimana dia selalu menjadi prioritas boncengan orang-orang (dia punya sakit khusus, apakah aku sebusuk itu sampai-sampai ga memanusiakan dia?). Aku ga suka bagaimana dia menyatakan secara terang-terangan bahwa dia suka warna biru (itu juga warna kesukaanku, apakah aku akan dicap mengikuti gayanya kalau aku mengakui bahwa aku juga suka warna biru?). Aku ga suka bagaimana dia dekat dengan cowok yang kusuka (apakah aku tidak layak untuk dekat dengan orang lain?). Aku ga suka bagaimana orang-orang tampak sangat memedulikan opininya (apakah opiniku dan yang lain jadi tidak berharga?). Aku ga suka bagaimana dia selalu membanggakan kisah hidupnya yang layak dijadikan novel (maafkan aku aku hidup). Aku ga suka bagaimana dia mengoreksi ibadahku (apakah aku memalukan sebagai lulusan pesantren?). Aku ga suka bagaimana dia cantik dengan make up (apakah aku terlalu jelek sampai kamu menatapku dengan tatapan aneh itu?).
Terlepas dari semua itu, aku lebih benci diriku sendiri.
Semua rasa ga suka itu ga bakal terjadi kalau aku ga busuk dari awal.
Aku lah yang bermasalah.
Kamu tahu, dia punya temen yang sangat baik (yang juga temenku tentunya). Saking baiknya, dia akan membantu seseorang tanpa berpikir dua kali. Mirip-mirip superhero di film anak-anak.
Orang ini selalu menolong dia. Selalu.
Rasa insekuritas-ku pun muncul sejak dia selalu membanggakan temannya yang sangat baik ini.
Maaf kalau aku tidak sebaik dia.
Maaf kalau kamu punya ekspetasi yang sama seperti dia terhadapku.
Maaf aku ga bisa memenuhi ekspetasimu itu.
Konyol. Untuk dan kepada siapa aku minta maaf?