C a n d y r o l l

can I share my thoughts here?

 

Selamat tengah malam?

I'm back with another rant because if I don't, I'd surely explode. Yah, seperti yang sudah tertulis di judul- mengurangi interaksi supaya meminimalisasi ekspetasi.

Aku punya seorang teman. Kita lumayan deket. I used to like them a lot, as a friend, because our interests match very well. Even our suicidal traits match. How wonderful is that it? Having someone who understands you deeply?

Salah.

Aku terkenal apatis, tidak punya hati, tidak bisa membaca suasana- dan aku menerimanya. Oke. You don't wanna hang out with me? Fine. I'm distancing myself. Bukan berarti aku tidak ada upaya berbenah diri. Damn. Aku mencoba, memulai menawarkan bantuan, mulai melibatkan mereka dalam hidupku-

lalu suatu hari, aku tersadar.

The world can be damned for all I care.

Anyway, baru-baru ini, temanku itu datang di tengah indahnya malam. Bukan untuk menawari diskusi ringan, atau candaan sarkas yang biasa kami lontarkan, ia datang dengan niat menyerang lawan (bukan kawan, it seems).

"You can expect everything from me, after all, I'm a good person."

?

Okay? Narcissistic much?

Aku bingung, jelas. Bukan pertama kalinya dia bilang begitu, dan di tahap ini aku sudah kebal menghadapi serangan darinya yang tiba-tiba itu.

So I told her, "Am I a bad person then?".

"For me, yeah. The thing is, you don't even realize that and it kinda made me upset. No, don't apologize. It does not matter anymore, so does your apology."

Aku dengan kesadaran penuh, "Alrighty mighty."

It's funny, really. Aku menyerah membalas perkataannya semenjak aku pernah mengatakan sesuatu yang menurutku benar-benar menyakiti perasaannya. Aku sadar itu. Makanya, sejak saat itu, apapun ucapannya tentangku, aku akan menerima dengan baik hati.

Tapi, baiklah. Aku terima kekecewaannya terhadap ekspetasinya kepadaku.

Sebenarnya, jauh sebelum dia bilang hal itu, aku sudah memulai menjauhkan diri. As I said, to reduce expectation is by minimizing interaction. Aku sudah tidak pernah mengajaknya hang out, begitu pun sebaliknya. Ku kira tidak ada yang masalah dengan itu?

Ternyata itu pun termasuk ke dalam ekspetasinya?

OoOoooOOmaga.

Terkadang, aku ingin memberitahunya betapa aku menahan diri untuk tidak menegurnya ketika mood-nya yang jelek itu memengaruhi teman-teman kami selama hang out, bagaimana kami sudah berusaha menghiburnya namun dia menolak kami dengan dingin, bagaimana ucapan 'gak usah berharap sama dia soalnya dia gak peduli' yang ia lontarkan di depan teman-teman kami di pagi yang indah itu membuatku malas sekali untuk berurusan lebih jauh lagi dengannya.

Tapi, balik lagi, akulah sang penjahat itu.

So, as the nonchalant idgafer in the group, I would just suck it up and move on. Aku sadar aku bukan orang baik, bukan pula teman yang baik. Maka aku tidak punya hak untuk memprotes tentang bagaimana orang lain memperlakukanku.

That's how it should fucking be.

Alas, meskipun kita sudah hampir tidak pernah bertemu, hanya bertukar pesan sekali-dua kali, dia masih menaruh ekspetasi terhadapku. Bahkan kehadiranku pun menjadi ekspetasinya.

Aku sendiri bukannya enggan. Tapi ekspetasi itu membuatku muak, terkadang. Bagaimana aku harus mengikuti apa 'ekspetasinya' terhadapku agar aku menjadi 'teman' yang sesuai ekspetasinya. Aneh. Kenapa dia tidak menaruh ekspetasi yang sama pada teman yang lain?

Jujur saja, aku benar-benar muak.

Saking muaknya, aku harus mencari tempat mengalihkan emosiku agar tidak meledak di depannya.

Logging out,

Candyroll
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sore.

Another baseless thought to justify my miserable self. Sekarang ini, acap kali keluargaku mengungkit sesuatu dari masa lalu, aku hampir tidak pernah mengingat satu hal pun.

Kupikir wajar. Maksudku, siapa juga yang bakal mengingat sesuatu dari sepuluh tahun yang lalu?!

Banyak. Tapi bukan aku.

Aku gak bisa inget semuanya.

Aku gak inget kalau keluargaku dulu suka bermain badminton di lapangan belakang rumah setelah shalat Shubuh. Aku gak inget kalau dulu kami pernah bermain ke rumah tetangga yang kaya raya. Aku gak inget bentuk rumah kami dulu. Aku bahkan gak inget bagaimana orangtuaku memperlakukanku dulu.

Yang aku inget cuma beberapa; nilaiku yang 76, rankingku yang gak bisa menyentuh dua besar, hafalanku yang gak bisa 5 juz, anak ART-ku dulu yang gak kusuka, dan semacamnya.

Pernah suatu malem, aku kepikiran, "Sebenernya kenapa aku bisa lupa semuanya? Aku bahkan gak punya trauma apapun." Aku gak punya trauma, orangtuaku sangat penyayang dan suportif, keluargaku juga bukan yang banyak menuntut.

Apakah aku terlalu dimanja?

Mungkin.

Malam itu, aku teringat bagaimana sepupuku dibelikan hadiah berupa mp3 player yang cukup fancy ketika aku masih SD.

"Ini hadiah buat sepupumu karena udah hafal 3 juz! Kamu bakal dapet juga kalo bisa hafal 3 juz."

I did, but the mp3 player is non-existent.

They didn't give me anything.

Not even a praise.

Kayaknya, semenjak saat itu aku haus afeksi dari orangtuaku sendiri. Born as the only daughter doesn't even help. Aku selalu waspada setiap kali orangtuaku, terutama ibuku, selalu menyebut nama anak orang lain, nama sepupuku, nama anak temannya, nama anak temah ayahku-

Oh. Betapa penakutnya aku dulu.

Ternyata anak ART yang sangat tidak kusukai pun bukan tanpa alasan. I just simply didn't understand, how could a stranger get all the attention from my own mother? Was I not enough? Were my efforts in vain?

Is it better if I wasn't born at all?

Aku juga gak ngerti bagaimana bocil sepertiku dapat berimajinasi seekstrim itu. Hanya karena ibuku membelikan mainan kepada anak ART-ku, hanya karena ibuku memberikannya buah potong yang seharusnya punyaku dengan dalih bahwa dia mungkin gak pernah memakannya sebelumnya, hanya karena ibuku tampak lebih bangga kepadanya,

hanya karena aku bukan anak itu.

Tapi apa yang bisa anak manja gagal sepertiku lakukan selain me-bully anak ART-ku yang tidak bersalah itu?

Kurasa aku mengerti kenapa ibuku selalu memihaknya. Katakan, siapa yang mau membela anak manja tidak tahu diri? No one.

Puncaknya adalah ketika suatu hari aku mendapati dia bermain dengan mainanku.

Oh.

Anak manja itu kemudian marah, menyalahkan anak ART yang sebenarnya tidak bersalah, sampai ibu mereka datang dan anak manja itu dimarahi. Anak manja itu hanya bisa bertanya-tanya kenapa ibunya tidak membela dirinya? Kenapa? Bahkan ketika barang miliknya dimainkan oleh orang lain tanpa seizinnya?

"Ibu 'kan udah ngijinin."

Tapi aku belum? Itu mainan punyaku?

Alas, anak manja itu tidak bisa menyadari betapa busuk hatinya sendiri sampai ia memutuskan untuk membuka kulkas dan merasakan hawa dingin keluar menyentuh badannya.

"Kalau aku mati di sini, apakah Ibu akan mencariku? Apakah akhirnya Ibu akan menyadari bahwa aku gak ada?

Apakah kalau aku mati, lantas Ibu akan mengangkat anak perempuan yang lebih sempurna untuk menggantikan diriku?"

Konyol. Mengadopsi anak tidak semudah itu, tapi anak manja bodoh itu tidak bisa berpikir dengan baik. Lalu, apa yang dilakukan oleh anak manja tadi?

Badannya yang kecil, tidak seperti anak ART-nya yang bahkan tumbuh lebih sehat dibandingkan dirinya, ternyata muat masuk ke dalam kulkas itu. Dia tersenyum sumringah, kemudian dengan senang menarik pintu kulkasnya agar tertutup.

Tapi mati tidak seindah bayangannya. Tentu saja, apa yang anak bodoh itu pikirkan? Bahwa mati terlihat seperti menyebrangi jembatan pelangi dan disambut oleh malaikat Munkar dan Nakir?

Konyol.

Yang dia tahu selanjutnya adalah gelap, dingin, dan sesak. Ternyata lampu kulkas mati ketika pintunya ditutup, dia tak tahu itu. Ternyata kulkas lebih dingin ketika kamu berada di dalamnya. Dan, siapa sangka dinginnya kulkas tidak bisa menyaingi rasa sesak dari tubuhmu?

Nafasnya terbatas, begitu pula ruang geraknya.

Anak manja bodoh itu pun akhirnya belajar apa itu keputusasaan.

Sayangnya, bunuh diri dengan menutup diri di kulkas tidak akan sukses kalau Ibumu adalah orang yang rajin memasak. Ibunya membuka kulkas, menemukan dia,

lalu memarahinya.

Ah, sia-sia.

Tidak ada yang berubah.

Anak manja tadi masih tetap manja, bahkan lebih insecure dibandingkan sebelumnya. Dia sangat pecemburu, sangat memuakkan.

Sampai saat ini pun, ketika ia mendengar Ibunya membicarakan anak perempuan lain, dia langsung memikirkan betapa indahnya dunia Ibunya jika ia lebih baik dari anak-anak orang itu, bisa lebih cantik, bisa lebih santun, bisa lebih berbakti.

Alangkah indah hidup Ibunya apabila ia tidak pernah terlahir sama sekali.

Ibunya adalah orang yang sangat penyayang, sangat baik hati, namun seberapa keras si anak mencoba, ia tetap tidak bisa menjadi lebih dari sekadar entitas berhati busuk.

Ah, andai saja ia bisa mati lebih cepat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 Malam.

Aku nulis ini pas lagi main dan nginep di rumah temenku, di saat mereka lagi nyanyi "A Thousand Years" by Christina Perri dan sekarang nyanyi "I Will Always Love You" by Whitney Houston. Sebenernya lagunya biasa didenger, tapi karena diselingi beberapa intermezzo yang lucu dan heartfelt.

Kemudian aku terpikir, "Oh wow, jatuh cinta itu selucu dan semenyangkan ini."

Sederhana, jujur. Bagaimana bisa, hanya dengan membayangkan kau menyanyikan lagu untuknya di pernikahanmu dengannya, seseorang bisa tersenyum selebar itu? Bisa tertawa dan memalingkan muka dengan detak jantung yang berpacu? 

Terkadang membuatku berpikir dengan hati apatis ini- apakah bahkan dengan sering menulis perkara cinta dan romansa, aku masih tak layak merasakan suka? Naksir? Damn.

Kayaknya aku pun masih terlalu insecure bahkan untuk menyukai diri sendiri. At this point, aku malah menaruh ekspetasiku yang tidak tergapai oleh diri sendiri ke orang lain.

Well.

Even so.

I do find his determination cool and cute at the same time.

Even if it isn't for me.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 Hi, selamat malam.

Insekuritas itu rasa paling busuk dalam hati dan pikiran, asli deh. Saking busuknya, dia bisa ngebuat kamu ga cuma ragu sama diri sendiri, tapi juga sama orang lain. Rasanya kayak seluruh dunia ngeliat kamu rendah, sampah yang bahkan ga pantas dianggap ada. Hal sekecil apapun bisa jadi sumber rasa ga percaya diri ini, bahkan hal sesepele seperti cara tersenyum. Apakah bagus? Cantik? Apakah orang lain ga ngerasa jijik ngeliatnya? Apakah keliatan terpaksa atau sudah cukup alami?

Busuk deh, beneran.

Lantas bagaimana kalau insekuritas itu terwujud dalam bentuk seseorang? Yang bahkan harus kamu temui setiap hari?

Aku dikelilingi oleh teman-teman yang menurutku sangat baik dan oke. Mereka unik dengan cara mereka sendiri; ada yang baik ga ketulungan, ada yang berjiwa sosial tinggi, ada yang sedikit esentrik, dan ada juga yang sholehah. Lalu aku hadir, sebagai clown of the group, sekaligus sebagai satu-satunya yang memiliki pemikiran menjijikkan ini.

Salahku memang.

Aku melihatnya sebagai perwujudan dari rasa insecure-ku. Awalnya ga separah itu. Kembali ke bagaimana aku melihat dia sebagai seseorang yang sangat sholehah, aku sebagai salah satu lulusan pesantren merasa malu karena dia tampak lebih cocok menyandang gelar "kesayangan Tuhan" dibandingkan denganku. Dia rajin sekali beribadah, mulai dari shalat sunnah, mengaji, dan semacamnya.

Takjub adalah apa yang aku pikirkan pertama kali. Dia itu bagai sebuah reminder positif buatku untuk ikut rajin beribadah, mencari pahala, mengejar ridha-Nya.

Tapi entah kapan rasanya itu semua runtuh. Salahku, mungkin. Ketika aku sadar bahwa cara ibadah kami sedikit berbeda, bahwa aku sedikit salah dalam hal tertentu. Mungkin caraku membaca Qur'an yang jelek? Mungkin caraku ruku' tidak bagus dan punggungku tampak bengkok? Dia mengkoreksiku dengan cara menatapku aneh, serta berkata, "Lho, bukannya emang gitu?".

Kalimatnya simpel. Yang salah adalah aku yang seakan-akan tenggelam dalam palung yang sangat dalam, merasa sesak sampai-sampai dadaku terasa nyeri.

Mulutku rasanya kecut, aku ga tau gimana ekspresi wajahku hari itu. Did I just laught it off like a good clown should do? Aku ga inget. Yang aku tahu adalah aku ga akan pernah beribadah atau melakukan hal religi lagi di depannya. Tidak akan pernah. Selamanya.

Whatever it takes.

Makanya ketika dia tiba-tiba memintaku menggantikan dia jadi imam shalat terawih, aku menolak setengah mati. Aku takut salah. Aku takut bacaanku tidak sempurna karena aku cadel. Aku takut setelah shalat, dia akan mengoreksi cara ibadahku di depan semua orang.

Mungkin mulai dari situ, aku melihat dia sebagai sosok yang superior. Perlahan-lahan, setiap aspek dan perilakunya menjadi insekuritas baru yang aku sendiri ga tau aku bakal punya.

Dia itu pinter, terutama di patofisiologi. Yah, dia jadi asprak praktikum dan kesayangan dosen tentunya bukan tanpa alasan. Harusnya kami bersaing secara sehat, meraih hasil belajar sebaik mungkin. Harusnya aku menjadikan dia motivasi. Terkadang juga kami belajar dan mengerjakan tugas bareng.

Tapi tentunya, with me having this nasty feeling, aku ngerasa dia sering secara implisit menyampaikan kamu kan kuliah juga, masa hal sekecil ini ga tau sih sampe nanya.

It's the worst, I'm telling you.

Karena dia pinter, dia juga deket sama salah satu orang paling pintar di kelasku. Awalnya aku ga mempermasalahkan mereka, sampai suatu hari takdir memintaku satu kelompok bersama mereka. Sebenernya, mereka lucu banget, mirip orang pacaran yang doyan ngejek satu sama lain. Sayangnya adalah mereka terlalu mempercayai satu sama lain, bahkan dalam diskusi kelompok sekali pun.

Lalu aku, si pemeran figuran yang bodoh ini, harus apa?

Aku ga sebodoh itu sih, kayaknya. Aku juga usaha kok buat terlibat dalam diskusi. Really tho, I should've known my place.

Opiniku tidak berbobot.

Suaraku tidak lebih dari sekadar BGM.

Aku hampir nangis on the spot saat itu, hahaha. Konyol banget.

Kedua hal yang kusebutkan di atas terjadi ga sekali dua kali, tapi tiga kali empat sama dengan dua belas alias selalu berulang sampai aku hapal tuntas. Dampaknya adalah aku jadi ga suka setiak gerak-geriknya.

Aku ga suka bagaimana dia selalu bercerita bahwa dia sangat bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik (apakah aku tidak pantas untuk dikelilingi orang yang baik juga?). Aku ga suka bagaimana dia selalu menjadi prioritas boncengan orang-orang (dia punya sakit khusus, apakah aku sebusuk itu sampai-sampai ga memanusiakan dia?). Aku ga suka bagaimana dia menyatakan secara terang-terangan bahwa dia suka warna biru (itu juga warna kesukaanku, apakah aku akan dicap mengikuti gayanya kalau aku mengakui bahwa aku juga suka warna biru?). Aku ga suka bagaimana dia dekat dengan cowok yang kusuka (apakah aku tidak layak untuk dekat dengan orang lain?). Aku ga suka bagaimana orang-orang tampak sangat memedulikan opininya (apakah opiniku dan yang lain jadi tidak berharga?). Aku ga suka bagaimana dia selalu membanggakan kisah hidupnya yang layak dijadikan novel (maafkan aku aku hidup). Aku ga suka bagaimana dia mengoreksi ibadahku (apakah aku memalukan sebagai lulusan pesantren?). Aku ga suka bagaimana dia cantik dengan make up (apakah aku terlalu jelek sampai kamu menatapku dengan tatapan aneh itu?).

Terlepas dari semua itu, aku lebih benci diriku sendiri.

Semua rasa ga suka itu ga bakal terjadi kalau aku ga busuk dari awal.

Aku lah yang bermasalah.

Kamu tahu, dia punya temen yang sangat baik (yang juga temenku tentunya). Saking baiknya, dia akan membantu seseorang tanpa berpikir dua kali. Mirip-mirip superhero di film anak-anak.

Orang ini selalu menolong dia. Selalu.

Rasa insekuritas-ku pun muncul sejak dia selalu membanggakan temannya yang sangat baik ini.

Maaf kalau aku tidak sebaik dia.

Maaf kalau kamu punya ekspetasi yang sama seperti dia terhadapku.

Maaf aku ga bisa memenuhi ekspetasimu itu.

Konyol. Untuk dan kepada siapa aku minta maaf?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Yahoo! Selamat sore dan selamat nataru!

Wow sudah berapa lama ya aku ga nulis di sini HAHAHA, terus dateng-dateng malah bikin kesimpulan 2023 padahal banyak hal yang harusnya diceritain dengan detail :D Well, whatever. It is what it is. Yang penting masih inget buat nulis dan mengarsipkan sejarah hidup sendiri, ya ga?

Januari sampai setengah tahun 2023 tu aku masih semester 6 wahahaha. Masih pusing mikirin dietetik, MJMG, dan berbagai matkul gizi lainnya yang tidak kalah membuat kepala berdansa dengan hati merana. Aku mau ceritain highlight tiap matkul aja kali ya?

Manajemen Jasa Makanan dan Gizi atau MJMG itu, ringkasnya, adalah matkul yang mengajarkan kita tentang usaha jasa makan atau katering. Lalu tugasnya apa? Ya, betul! Membangun jasa katering sendiri! Gila dikit.

Sebenernya ga ada masalah, sih, kalau bukan aku yang jadi salah satu manajernya. Sayangnya, aku kepilih buat jadi salah satu manajernya :). Alasannya karena aku punya bakat desain. Kayak?! Masih ada yang lebih jago dari aku aslinya, tapi dia harus masuk divisi lain. Maka mau tidak mau, aku sebagai second choice harus menerima takdir ini.

Selama bulan puasa, aku harus mikirin konsep jualan kita, branding, logo, nama, slogan, dan lain sebagainya. Wow. Sangat produktif, benar? Benar!


Akhirnya jadilah usaha kami yang bernama Torizy (yes, it's available on Instagram and no, we're closed for now). Sejujurnya aku minder dikit. Ga ding, MINDER BANGET. Aku ngerasa ga layak buat jadi manajer, so I doubted myself a lot. Masalahnya, logo dan maskot Torizy itu aku yang buat konsepnya. Aku yang gambar. Aku yang- oke cukup.

Tapi ... beneran, deh. Aku takut jualan kami ga sesuai ekspetasi karena aku ga becus buat memasarkannya. Aku sampe maksa kakakku buat beli produk kami HAHAHA. Di luar dugaan, beliau malah beli 10?! Emang dasarnya orang gilaaa! Dia beli buat pegawai-pegawainya juga. Keren sih, masyaallah.

Alhamdulillah-nya, timku ini isinya orang berbakat semua. Asli. Ada yang jago bikin short movie, editing, design, etc. Aku salut banget. Big applause for all of 'em. Berkat mereka, bebanku berkurang banyak. Yah, meskipun aku tetep ga bisa menjadi manajer yang baik buat mereka (jadwal kami berantakan HAHAHA MAAF SEMUANYA).

Tentu saja kami punya ketua atau kami sebut CEO, yaitu Dyhan! Dia udah pernah muncul di ceritaku sebelumnya (tapi aku lupa tentang apa). Dyhan ini lumayan bagus sebagai CEO, terlepas dari dia yang harus meninggalkan kita di hari-H produksi karena harus ke luar negeri :). Agak kesel tapi gapapa, soalnya dapet oleh-oleh hehehe~

Hari-H produksi berjalan lancar walaupun terdapat beberapa kendala. Untungnya, para petinggi Torizy (asik, petinggi ga tuh) cukup handal dalam menyelesaikan masalah. Yang bikin aku kaget adalah betapa membludaknya order-an produk kami! Aku terharu banget. Stok kami abis seabis-abisnya. Makasih semuanya yang udah beli, aku akan mengenang kalian (hari ini doang).


Pindah ke matkul selanjutnya, ada Percobaan Produk Pangan dan Gizi atau biasa disebut P3G. Matkul ini berfokus kepada pengembangan produk baru yang bermanfaat dan tentunya bergizi. Aku kebagian kelompok bersama Didit (nama samaran, dia cewek), Clara, dan Chris. Nah, aku hoki banget karena mereka semua temen deketku hehe- klaim sepihak.

Didit ini jago banget masak. Dia juga jago itung-itungan kandungan gizi bersama Clara. Kalau Chris itu lucu, kooperatif, dan menghibur banget, lah, orangnya! Nah, lagi-lagi aku yang kebagian tugas buat desain packaging serta gambar di atasnya. Bedanya, yang sekarang aku lumayan bangga meskipun desainnya simpel tapi lucu.


Nama produk kami adalah Bonanas, yaitu puding berbahan dasar pisang dan nanas. Ketika hari-H launching produk, banyak kekacauan yang terjadi wahahaha. Aku salah print, temenku salah pasang packaging, vla tumpah, dan lain-lain. Ajaibnya, salah satu dosen tertarik sama produk kami dan akhirnya beliau beli! Keren. Langsung dapet duit. Dosen lain juga memuji packaging kami yang menyatukan vla dan puding dalam satu kemasan, namun vla diletakkan terpisah di atas puding. Kebayang ga? Pokoknya gitu, deh. Aku bangga dikit soalnya aku yang mengusulkan ide buat pakai kemasan tersebut nyahahaha.

Di akhir acara, setiap pengunjung yang mengelilingi booth kami diwajibkan menilai tiap produk yang dibuat. Dan, ba dum tsss, Bonanas mendapat juara 1 dari paralel kami! Bangga banget, asli deh. Kami dapet pizza sebagai hadiah kecil-kecilan dari dosen dan asprak. Hehehe!

Yah, kedua hal di atas adalah penutup semester 6 yang sangat berkesan buatku. Agak rindu dan sedih juga pas aku inget-inget lagi. Keinget gimana perjuangan kami semua melewati semester yang cukup menguras fisik dan mental itu.

Sekian dulu untuk hari ini.

See u!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Malam!

Gila dingin banget pagi ini brr. Jadi, singkat cerita, aku sekarang lagi KKN di Banjarnegara atau lebih tepatnya di Desa Batur. Awalnya aku iseng milih ini tanpa mikir apakah ada temen yang bakal KKN di daerah yang sama atau gak HAHAHA /sinting. Cuma, suatu hari aku denger kalau di Banjarnegara itu sangat oke dan seperti healing karena ada Dieng dan semacamnya. Maka tertariklah aku mencoba :D.


Nah, itu pemandangan Batur di pagi hari yang diabadikan oleh temanku dengan drone. Cakep, 'kan? Cakep dong!

Tapi yang aku pengen ceritain sekarang. Aku mau cerita tentang teman sekelompokku, sebut saja Dhem, Aji, Kadi, Pen, dan Eki. Itu yang cowoknya sih, kalo yang cewek tu ada Via, Asy, Ima, dan Nay. Aku tahu mereka gak ada niat apa-apa, tapi gimana ya ... aku ngerasa mereka tu kayak segan dan ga suka sama aku? HAHAHA. Bisa jadi cuma overthinking aja sih.

... tapi apakah betul cuma overthinking?!

-published first, will edit later-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Siang!

I wrote this in broad daylight during class because I am done with my assignment so I had nothing to do other than observing others. Masih kelanjutan dari Clara, Yi Ra, dan satu temanku yang nge-crush sama Yi Ra, sebut saja Rafi. Rafi cewek ya btw, dan seperti biasa, nama disamarkan~

Disclaimer dulu sekiranya aku bakal kena flame di masa mendatang karena tulisanku di hari ini, aku tentunya bukan expert cinta. Bukan pula orang yang jago membaca sikap atau ucapan orang lain dan menginterpretasikan dengan akurat. Aku cuma orang sok tahu (HAHAHA) yang punya imajinasi dan tingkat kesuudzonan tinggi. Dan maaf kalau aku bakal pakai bahasa Jaksel alias bakal banyak campur-campur antara Indo dan Inggris wkwkwk.

So first thing first, Clara pernah bilang kalau dia nggak suka sama sekali sama Yi Ra. Well that's acceptable, at least until one day when something happened between my friends. Katakanlah Yi Ra ini punya banyak fans, orang yang naksir sama dia, whatever you call that. Salah satunya adalah Rafi.

Dan guweh!

One day, Chris, sebut saja soulmate-nya Yi Ra meski sama-sama cowok, bilang ke Clara bahwasannya!!! Orang-orang!!! Mengira!!! Clara sedang PDKT dengan Yi Ra!!!

And that fact somewhat connects all the dots that have been swimming around my head.

Forget the fact that it might be a coincidence that Yi Ra joined English Class instead of Indonesian Class. I don't really know how phrase it well but the way I see it, Clara is, uh you know, like to make Yi Ra involved in almost every thing she did. Not to mention both of them are mostly in the same group in any assignment.

That's kinda impressive if I could say.

Awalnya, tiap kali Clara cerita tentang pengalamannya dengan Yi Ra ke aku dan Rafi, aku menganggepnya sebagai sesuatu yang lucu dan wholesome. Tapi setelah mengetahui rumor tersebut, duar! Kayak tembok yang selama ini ada di hadapanku tiba-tiba dibom oleh pencerahan!

Now I see it as something that Clara does not even realize herself. Mungkin dia seneng ketika ngalamin hal-hal itu? Jadi dia menceritakannya ke dunia, ke keluarganya, to the point that her family support their relationship.

Kayaknya aku yang terlalu suudzon. Tapi aku juga ngerasa bersalah kalau suudzon doang ke Clara. Tapi GIMANA YHA. Masalahnya, meski ya ini bukan masalahku juga and I do know that I really should mind my own business, aku nggak bisa nggak ngerasa awkward ke Rafi yang suka pertama kali ke Yi Ra.

Yes indeed feeling can't be controlled and it's not like Rafi is officially dating Yi Ra. It's just ... the way she acts, talks, and smiles without realizing how much she herself wanted to be with him. How she always sit beside Yi Ra in every time possible.

... yet she said that she does not like him.

Oh my God.

"Let's ask Yi Ra's opinion!"

"Chris, tell Yi Ra what should I do."

"Yi Ra! It must be you! You're the only one who did this."

"Godness Yi Ra, what did you do?"

It's always him and it's so fucking obvious I can throw up off disgust.

Yi Ra sendiri keliatannya udah terbiasa sama kejadian kayak gini. Well can't blame him tho. He's that charming lol.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Current Status

active student at Nutrition Community IPB University 57

Categories

  • 1 Month Challenge
  • 1 Week Challenge
  • based on song
  • college life
  • copywriting
  • dailycurcol
  • depressive
  • dietetok
  • dragon raja
  • game
  • intro
  • kknt
  • OC
  • practicing
  • pubg
  • random thought(s)
  • rant
  • wibu life

recent posts

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  Mei (1)
      • To Minimize Interactions is to Reduce Expectations...
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2021 (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2020 (12)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates