I'm back with another rant because if I don't, I'd surely explode. Yah, seperti yang sudah tertulis di judul- mengurangi interaksi supaya meminimalisasi ekspetasi.
Aku punya seorang teman. Kita lumayan deket. I used to like them a lot, as a friend, because our interests match very well. Even our suicidal traits match. How wonderful is that it? Having someone who understands you deeply?
Salah.
Aku terkenal apatis, tidak punya hati, tidak bisa membaca suasana- dan aku menerimanya. Oke. You don't wanna hang out with me? Fine. I'm distancing myself. Bukan berarti aku tidak ada upaya berbenah diri. Damn. Aku mencoba, memulai menawarkan bantuan, mulai melibatkan mereka dalam hidupku-
lalu suatu hari, aku tersadar.
The world can be damned for all I care.
Anyway, baru-baru ini, temanku itu datang di tengah indahnya malam. Bukan untuk menawari diskusi ringan, atau candaan sarkas yang biasa kami lontarkan, ia datang dengan niat menyerang lawan (bukan kawan, it seems).
"You can expect everything from me, after all, I'm a good person."
?
Okay? Narcissistic much?
Aku bingung, jelas. Bukan pertama kalinya dia bilang begitu, dan di tahap ini aku sudah kebal menghadapi serangan darinya yang tiba-tiba itu.
So I told her, "Am I a bad person then?".
"For me, yeah. The thing is, you don't even realize that and it kinda made me upset. No, don't apologize. It does not matter anymore, so does your apology."
Aku dengan kesadaran penuh, "Alrighty mighty."
It's funny, really. Aku menyerah membalas perkataannya semenjak aku pernah mengatakan sesuatu yang menurutku benar-benar menyakiti perasaannya. Aku sadar itu. Makanya, sejak saat itu, apapun ucapannya tentangku, aku akan menerima dengan baik hati.
Tapi, baiklah. Aku terima kekecewaannya terhadap ekspetasinya kepadaku.
Sebenarnya, jauh sebelum dia bilang hal itu, aku sudah memulai menjauhkan diri. As I said, to reduce expectation is by minimizing interaction. Aku sudah tidak pernah mengajaknya hang out, begitu pun sebaliknya. Ku kira tidak ada yang masalah dengan itu?
Ternyata itu pun termasuk ke dalam ekspetasinya?
OoOoooOOmaga.
Terkadang, aku ingin memberitahunya betapa aku menahan diri untuk tidak menegurnya ketika mood-nya yang jelek itu memengaruhi teman-teman kami selama hang out, bagaimana kami sudah berusaha menghiburnya namun dia menolak kami dengan dingin, bagaimana ucapan 'gak usah berharap sama dia soalnya dia gak peduli' yang ia lontarkan di depan teman-teman kami di pagi yang indah itu membuatku malas sekali untuk berurusan lebih jauh lagi dengannya.
Tapi, balik lagi, akulah sang penjahat itu.
So, as the nonchalant idgafer in the group, I would just suck it up and move on. Aku sadar aku bukan orang baik, bukan pula teman yang baik. Maka aku tidak punya hak untuk memprotes tentang bagaimana orang lain memperlakukanku.
That's how it should fucking be.
Alas, meskipun kita sudah hampir tidak pernah bertemu, hanya bertukar pesan sekali-dua kali, dia masih menaruh ekspetasi terhadapku. Bahkan kehadiranku pun menjadi ekspetasinya.
Aku sendiri bukannya enggan. Tapi ekspetasi itu membuatku muak, terkadang. Bagaimana aku harus mengikuti apa 'ekspetasinya' terhadapku agar aku menjadi 'teman' yang sesuai ekspetasinya. Aneh. Kenapa dia tidak menaruh ekspetasi yang sama pada teman yang lain?
Jujur saja, aku benar-benar muak.
Saking muaknya, aku harus mencari tempat mengalihkan emosiku agar tidak meledak di depannya.
Logging out,
Candyroll
