The So-Called Childhood Trauma - 030625
Sore.
Another baseless thought to justify my miserable self. Sekarang ini, acap kali keluargaku mengungkit sesuatu dari masa lalu, aku hampir tidak pernah mengingat satu hal pun.
Kupikir wajar. Maksudku, siapa juga yang bakal mengingat sesuatu dari sepuluh tahun yang lalu?!
Banyak. Tapi bukan aku.
Aku gak bisa inget semuanya.
Aku gak inget kalau keluargaku dulu suka bermain badminton di lapangan belakang rumah setelah shalat Shubuh. Aku gak inget kalau dulu kami pernah bermain ke rumah tetangga yang kaya raya. Aku gak inget bentuk rumah kami dulu. Aku bahkan gak inget bagaimana orangtuaku memperlakukanku dulu.
Yang aku inget cuma beberapa; nilaiku yang 76, rankingku yang gak bisa menyentuh dua besar, hafalanku yang gak bisa 5 juz, anak ART-ku dulu yang gak kusuka, dan semacamnya.
Pernah suatu malem, aku kepikiran, "Sebenernya kenapa aku bisa lupa semuanya? Aku bahkan gak punya trauma apapun." Aku gak punya trauma, orangtuaku sangat penyayang dan suportif, keluargaku juga bukan yang banyak menuntut.
Apakah aku terlalu dimanja?
Mungkin.
Malam itu, aku teringat bagaimana sepupuku dibelikan hadiah berupa mp3 player yang cukup fancy ketika aku masih SD.
"Ini hadiah buat sepupumu karena udah hafal 3 juz! Kamu bakal dapet juga kalo bisa hafal 3 juz."
I did, but the mp3 player is non-existent.
They didn't give me anything.
Not even a praise.
Kayaknya, semenjak saat itu aku haus afeksi dari orangtuaku sendiri. Born as the only daughter doesn't even help. Aku selalu waspada setiap kali orangtuaku, terutama ibuku, selalu menyebut nama anak orang lain, nama sepupuku, nama anak temannya, nama anak temah ayahku-
Oh. Betapa penakutnya aku dulu.
Ternyata anak ART yang sangat tidak kusukai pun bukan tanpa alasan. I just simply didn't understand, how could a stranger get all the attention from my own mother? Was I not enough? Were my efforts in vain?
Is it better if I wasn't born at all?
Aku juga gak ngerti bagaimana bocil sepertiku dapat berimajinasi seekstrim itu. Hanya karena ibuku membelikan mainan kepada anak ART-ku, hanya karena ibuku memberikannya buah potong yang seharusnya punyaku dengan dalih bahwa dia mungkin gak pernah memakannya sebelumnya, hanya karena ibuku tampak lebih bangga kepadanya,
hanya karena aku bukan anak itu.
Tapi apa yang bisa anak manja gagal sepertiku lakukan selain me-bully anak ART-ku yang tidak bersalah itu?
Kurasa aku mengerti kenapa ibuku selalu memihaknya. Katakan, siapa yang mau membela anak manja tidak tahu diri? No one.
Puncaknya adalah ketika suatu hari aku mendapati dia bermain dengan mainanku.
Oh.
Anak manja itu kemudian marah, menyalahkan anak ART yang sebenarnya tidak bersalah, sampai ibu mereka datang dan anak manja itu dimarahi. Anak manja itu hanya bisa bertanya-tanya kenapa ibunya tidak membela dirinya? Kenapa? Bahkan ketika barang miliknya dimainkan oleh orang lain tanpa seizinnya?
"Ibu 'kan udah ngijinin."
Tapi aku belum? Itu mainan punyaku?
Alas, anak manja itu tidak bisa menyadari betapa busuk hatinya sendiri sampai ia memutuskan untuk membuka kulkas dan merasakan hawa dingin keluar menyentuh badannya.
"Kalau aku mati di sini, apakah Ibu akan mencariku? Apakah akhirnya Ibu akan menyadari bahwa aku gak ada?
Apakah kalau aku mati, lantas Ibu akan mengangkat anak perempuan yang lebih sempurna untuk menggantikan diriku?"
Konyol. Mengadopsi anak tidak semudah itu, tapi anak manja bodoh itu tidak bisa berpikir dengan baik. Lalu, apa yang dilakukan oleh anak manja tadi?
Badannya yang kecil, tidak seperti anak ART-nya yang bahkan tumbuh lebih sehat dibandingkan dirinya, ternyata muat masuk ke dalam kulkas itu. Dia tersenyum sumringah, kemudian dengan senang menarik pintu kulkasnya agar tertutup.
Tapi mati tidak seindah bayangannya. Tentu saja, apa yang anak bodoh itu pikirkan? Bahwa mati terlihat seperti menyebrangi jembatan pelangi dan disambut oleh malaikat Munkar dan Nakir?
Konyol.
Yang dia tahu selanjutnya adalah gelap, dingin, dan sesak. Ternyata lampu kulkas mati ketika pintunya ditutup, dia tak tahu itu. Ternyata kulkas lebih dingin ketika kamu berada di dalamnya. Dan, siapa sangka dinginnya kulkas tidak bisa menyaingi rasa sesak dari tubuhmu?
Nafasnya terbatas, begitu pula ruang geraknya.
Anak manja bodoh itu pun akhirnya belajar apa itu keputusasaan.
Sayangnya, bunuh diri dengan menutup diri di kulkas tidak akan sukses kalau Ibumu adalah orang yang rajin memasak. Ibunya membuka kulkas, menemukan dia,
lalu memarahinya.
Ah, sia-sia.
Tidak ada yang berubah.
Anak manja tadi masih tetap manja, bahkan lebih insecure dibandingkan sebelumnya. Dia sangat pecemburu, sangat memuakkan.
Sampai saat ini pun, ketika ia mendengar Ibunya membicarakan anak perempuan lain, dia langsung memikirkan betapa indahnya dunia Ibunya jika ia lebih baik dari anak-anak orang itu, bisa lebih cantik, bisa lebih santun, bisa lebih berbakti.
Alangkah indah hidup Ibunya apabila ia tidak pernah terlahir sama sekali.
Ibunya adalah orang yang sangat penyayang, sangat baik hati, namun seberapa keras si anak mencoba, ia tetap tidak bisa menjadi lebih dari sekadar entitas berhati busuk.
Ah, andai saja ia bisa mati lebih cepat.
0 komentar